Kamis, 05 Agustus 2010

Slokha Slokha Kehidupan Masa Lampau Sang Buddha

Oleh: Acharya Arya Sura

Namo!

Engkau sucikan seluruh kelahiran rendah
Semua makhluk dari ketiga alam kehidupan,
Kepada mu, singa dari Shakya,
Yang memutar roda Dharma, aku menghormad!

Kepada Bodhisattva yang pemberani,
Yang mempraktikkan kemurahan hati dengan sempurna,
Dalam kelahiran sebagai harimau betina, Raja Shibhi, Raja Kosali,
Dua pedagang, kelinci,
Agastya, Maitribala yang memberikan dagingnya sendiri,
Vishvantara, upacara korban, aku menghormat!
Semoga diriku juga mencapai kesempurnaan paramita,
Kemurahan hati (dana paramita), sama seperti mu!

Kepada Bodhisattva yang pemberani,
Yang mempraktikkan disiplin sila,
Dalam rangkaian kelahiran sebagai Shakra, Brahmana,
Unmadayanti, Suparaga,
Ikan, bayi puyuh, kendi arak,
Putra orang kaya, pertapa dan bendahara, aku menghormat!
Semoga diriku juga mencapai kesempurnaan paramita,
Disiplin pengendalian diri(Sila paramita), sama seperti mu!

Kepada Bodhisattva yang pemberani,
Yang mempraktikkan kesabaran sempurna,
Dalam sepuluh rangkaian kelahiran Kuddhabodhi, angsa, Mahabodhi,
Kera, Rusa Sharabha, rusa ruru, Raja Kera,
Kshantivadin, DewaBrahma, dan Hasti, aku menghormat!
Semoga diriku juga mencapai kesempurnaan paramita,
Kesabaran (ksanti paramita), sama seperti mu!


Keterangan

Untuk lebih menjiwai ajaran Buddha, pelajari teladan kehidupannya dimasa lampau. Membaca kisah-kisah tersebut, akan membentuk kepribadian utuh seorang pencari kebahagiaan sejati.

Bukan hanya logika yang akan kenyang oleh beraneka filosofi dan gagasan, tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut hidup nyata dalam pribadi manusia.

Saya telah menterjemahkan Jatakamalla, dan semua nama yang tersebut terdapat di kitab tersebut.

Jika anda tidak memiliki buku tersebut, sumber lain bisa dilihat di sini:

Pujian Singkat Pada Kegiatan Sang Buddha


Oleh: Aryasura

Ketika engkau lahir, Oh Narapati (pemimpin manusia),
Engkau berjalan tujuh langkah di bumi ini dan berkata:
"Di dunia ini aku lah yang tertinggi."
Kepadamu, Oh Sang Bijak, aku memberi penghormatan!(1)

Pertama, engkau turun dari surga Tushita,
Dan didalam puri kerajaan memasuki rahim ibumu;
Di taman di Lumbini, Oh Pertapa, engkau lahir:
Kepada Sang Penakluk 'dewa di antara para dewata', aku memberi penghormatan! (2)

Engkau yang dilayani oleh tiga puluh dua pelayan di istana,
Engkau menghabiskan masa mudamu dalam permainan di puri Shakyas;
Di Kapilavastu engkau mengambil Gopa sebagai istri mu:
Untuk mu yang tiada banding di triloka, aku memberi penghormatan! (3)

Di keempat gerbang kota, engkau memperlihatkan empat macam kesedihan,
Dan memotong rambut mu sendiri di depan Vishuddha Stupa;
Di tepi sungai Nairanjana engkau menjalankan hidup sebagai pertapa:
Kepada mu yang telah bebas dari kesalahan akan dua rintangan, aku memberi penghormatan! (4)

Di Rajagriha engkau menjinakkan gajah liar,
Di Vaishali kera memberimu persembahan madu;
Di Magadha, Oh Pertapa, engkau mencapai Kebuddhaan:
Kepada mu dimana kebijaksanaan yang mahatahu mekar, aku memberi penghormatan! (5)

Di Varanasi engkau memutar roda Dharma,
Dan di Taman Jeta engkau memperlihatkan keajaiban hebat;
Dan di Kushinagara batin kebijaksanaan mu memasuki Parinirvana:
Untuk mu yang batinnya (luas) laksana angkasa, aku memberi penghormatan! (6)

Melalui kebajikan dari pujian singkat ini
Terhadap kegiatan Sang Buddha, Sang Guru Dharma,
Semoga tindakan-tindakan semua makhluk hidup
Menjadi sebanding dengan aktifitas dari Sang Sugata sendiri. (7)

Oh Sang Sugata, semoga diri saya serta orang lain memiliki wujut,
Pengiring, masa hidup, alam suci
Dan tanda-tanda kesempurnaan luhur
Persis sebagaimana dirimu. (8)

Melalui kekuatan pujian ku kepada mu dan doa ini,
Di negeri manapun kami berdiam, semoga
Penyakit, ketidakbajikan, kemiskinan serta konflik dapat dipadamkan,
Dan Dharma serta kemujuran berkembang dan menyebar. (9)

Diterjemahkan oleh: Romo Sumatijnana

Jumat, 23 April 2010

Permata Dharma Komunitas Bhumisambhara

Candi Borobudur, duplikasi alam Aryasabdha



Mahayana Bhumisambhara 

Ajaran Bhumisambhara Dharma berasal dari Buddha Vairochana, Bodhisattva Samantabhadra, Raja Mahabhala Prabha hingga akhirnya sampai pada Raja Sanggrama Dananjaya (Syailendra-wangsa-tilaka) yang lalu mewujudkan ajaran tersebut di Candi Borobudur (Jinalaya Bhumisambhara Buddha).

Raja Sanggrama lah yang mengawali berdirinya Candi Kalasan untuk Dewi Tara, Candi Mendut simbol Sang Tri Ratna, Candi Borobudur serta Candi Sewu untuk Dharmadhatu Manjushri. 

Setelah menghilang selama lebih dari 1000 tahun berkait dengan perubahan karma masyarakat nusantara. Berdasarkan hubungan karma dimasa lampau, Romo Sumatijnana kemudian menghidupkan kembali ajaran Mahayana tradisi Indonesia ini pada tahun 2001







Selamat Datang


OM NAMO GURUYE, OM NAMO SARVABUDDHA BODHISATTVA BYAH!
Berlindung kepada Guru, berlindung kepada semua Buddha serta Bodhisattva!


Om Svasthi, Namo Buddhaya!


Selamat Datang 

Ini adalah Blog resmi Komunitas Bhumisambhara, pelestari dan praktisi agama Buddha tradisi Indonesia. Didirikan oleh Romo Sumatijnana pada tahun 2001.


Informasi dalam blog ini berisi beberapa ajaran atau praktek Mahayana Bhumisambhara, yang berguna bagi siapa saja yang ingin mempelajari atau mempraktekan ajaran Mahayana secara umum.


Terimakasih atas kunjungan anda.